Iklan 1

Senin, 04 Januari 2016

Mengapa Indonesia Miskin ?

Mengapa Indonesia miskin? Padahal, jumlah rakyatnya banyak. Banyak yang berbakat, cerdas dan mau bekerja keras untuk mengembangkan diri dan bangsanya. Kekayaan alam pun berlimpah ruah.

Kita memiliki minyak, gas dan beragam logam sebagai sumber daya alam yang siap untuk diolah. Kita memiliki tanah yang subur yang siap ditanami beragam jenis tanaman. Kita memiliki hutan yang luas yang bisa memberikan udara segar tak cuman untuk bangsa kita, tetapi untuk seluruh dunia. Akan tetapi, mengapa kita masih miskin, walaupun kita memiliki tersebut semua?


Keadaan Kita

Di satu sisi, banyak orang kesulitan untuk mencari pekerjaan yang layak. Mereka harus menerima fakta, bahwa pekerjaan mereka bersifat sementara. Mereka bisa dipecat sewaktu-waktu. Gajinya pun tak layak untuk memberikan kehidupan yang layak.

Banyak juga orang yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mereka kesulitan mencari makan, sandang dan papan yang layak untuk manusia. Banyak juga keluarga yang hidup pada dalam kemiskinan akut. Mereka tak cuman mengalami kesulitan ekonomi berat, tetapi juga acap kali sakit secara fisik.

Di sisi lain, ada orang-orang yang hidup dengan amat berkelimpahan. Gaji mereka puluhan bahkan ratusan juta setiap bulannya. Mereka hidup pada rumah-rumah besar, kayak yang bisa kita lihat pada berbagai perumahan mewah pada berbagai kota pada Indonesia. Mereka menggunakan mobil mewah setiap harinya.

Mereka berbelanja pada mall-mall besar. Mereka berwisata ke “negara-negara mahal” setiap tahunnya. Keadaan ini kontras berbeda dengan keadaan kelompok lainnya yang hidup dalam kemiskinan akut. Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin begitu besar dan begitu terasa pada Indonesia.

Jika ini dibiarkan, maka hidup bersama akan menjadi sulit. Keadaan hidup sehari-hari akan dipenuhi ketegangan, kecurigaan dan rasa takut antar warga. Kriminalitas meningkat. Dan sangatlah mungkin, bahwa kekerasan akan meledak pada tingkat politik, misalnya dalam bentuk revolusi berdarah.

Lembaga dan Mentalitas

Yang mendorong suatu negara berkembang ialah kualitas lembaga publiknya, kayak berbagai lembaga pemerintah, penegak hukum, parlemennya, militer dan lembaga pendidikan. Mereka ialah lembaga yang dibiayai dengan uang rakyat, yakni pajak, dan bekerja untuk kepentingan seluruh rakyat, tanpa kecuali. Mereka bertanggungjawab untuk kesejahteraan publik rakyat Indonesia. Mereka ialah motor pembangunan.

Di Indonesia, lembaga-lembaga publik ini tak bekerja dengan baik. Mayoritas dipenuhi korupsi. Uang rakyat digunakan untuk keperluan pribadi ataupun golongan semata. Akibatnya, banyak program untuk pengembangan kesejahteraan bersama tak berjalan.

Lembaga-lembaga ini sudah mengkhianati kepercayaan rakyat. Mereka mengingkari alasan keberadaannya, yakni demi kesejahteraan rakyat. Padahal, pimpinan-pimpinan utama mereka dipilih langsung oleh rakyat. Mengapa ini bisa terjadi?

Di berbagai negara yang makmur, lembaga publik berkembang lintas generasi. Mereka sudah diciptakan dari ratusan tahun yang lalu. Banyak hal sudah dipelajari, sehingga kini mereka bisa berfungsi dengan relatif baik. Ada mentalitas dan budaya yang sudah tercipta pada dalam berbagai lembaga publik tersebut, yang mendukung proses-proses kerja mereka.

Ini tak terjadi pada Indonesia. Lembaga-lembaga publik pada Indonesia masih amat muda. Mereka tak punya tradisi yang berkembang lintas generasi, kayak yang ditemukan pada berbagai negara makmur. Mentalitas dan budaya lembaga yang ada hancur, akibat penjajahan selama ratusan tahun oleh Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis dan Jepang, serta juga oleh Orde Baru Suharto.

Penjajahan sudah merusak budaya dan mentalitas pada Indonesia. Ini tak cuman terjadi pada Indonesia, tetapi juga pada banyak negara Afrika dan Amerika Latin. Jejak-jejak penjajahan masa lalu yang dipenuhi kekerasan, perbudakan, penipuan, penghisapan, pembunuhan massal serta penghancuran tata nilai masih mempengaruhi kehidupan kala ini. Kehancuran budaya dan mentalitas ini pula yang membikin banyak lembaga publik pada Indonesia dan pada berbagai negara tersebut cacat.

Penjajahan Asing

Sejujurnya, penjajahan asing belum berakhir pada Indonesia. Infrastruktur ekonomi dan budaya kita masih amat tergantung sama asing. Mayoritas perusahaan besar yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia masih dimiliki oleh asing. Perjanjian kerja yang dibikin antara pemerintah dan berbagai perusahaan asing tersebut juga acap kali tak adil.

Banyak perusahaan asing mendirikan pabrik dan kantor pada Indonesia. Mereka memanfaatkan standar gaji dan perlindungan pekerja yang rendah pada Indonesia. pada beberapa tempat, mereka menggunakan kekerasan untuk menekan para pekerja. Para penegak hukum Indonesia disuap untuk diam, dan bahkan mendukung kekerasan yang terjadi.

Beragam pengolahan sumber daya alam juga masih dikuasai oleh pihak asing. Manajemen puncak masih dipegang oleh orang-orang asing. Mayoritas pekerja Indonesia cuman menjadi manajer rendah atau pesuruh belaka, walaupun kemampuan mereka setingkat dengan para pekerja asing, atau bahkan lebih baik. Perjanjian kerja yang dibikin antara beragam perusahaan asing dan pemerintah Indonesia pun acap kali juga tak adil.

Yang lebih mengherankan lagi ialah soal struktur mata uang. Mengapa orang Eropa bisa dengan mudah liburan ke Indonesia, sementara kita sulit sekali untuk liburan ke Eropa? Yang jelas, mereka tak lebih cerdas ataupun rajin, jika dibandingkan dengan orang Indonesia. Ini terjadi, karena struktur mata uang dunia yang tak adil.

Saya masih heran sampai sekarang dengan struktur mata uang tersebut. Jika diperhatikan dengan jeli, ini ialah sistem warisan masa penjajahan dahulu, ketika bangsa-bangsa Eropa secara agresif menyerbu berbagai negara lain pada dunia. Sistem mata uang dunia ialah sistem yang secara inheren tak adil dan berbau penjajahan serta penindasan. Ini memberikan kerugian yang amat besar untuk Indonesia, sekaligus keuntungan yang berlimpah ruah untuk negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Tata nilai kita juga kabur, akibat dominasi asing yang begitu kuat. pada satu sisi, banyak orang yang lebih bangga bergaya hidup Amerika dan Eropa, daripada menghayati nilai budaya tempat asalnya. pada sisi lain, banyak orang yang meniru budaya Arab, supaya kelihatan lebih saleh dan suci, walaupun sebenarnya dipenuhi kemunafikan. Kebingungan identitas antara budaya lokal Indonesia, budaya Arab Timur Tengah serta budaya AS dan Eropa ini berdampak luas, terutama dalam soal tata nilai yang menjadi dasar dari tindakan sehari-hari kita pada Indonesia.

Tersangka koruptor tiba-tiba menggunakan jilbab, ketika disidang. Ayat-ayat agama digunakan untuk menindas dan merugikan orang lain. Orang tergila-gila dengan merk asing, walaupun harganya sangat tak masuk akal, dan mutunya biasa-biasa saja. Orang rela jadi budak asing, supaya dapat uang receh, suap ataupun cipratan hasil korupsi.

Kerancuan tata nilai tersebut menciptakan kebingungan pada banyak bidang, termasuk lembaga-lembaga publik kita. Tekanan suap dari pihak asing dan dominasi budaya yang dipenuhi kemunafikan membikin beragam lembaga publik kita tersendat. Tak heran, kita tetap “miskin”, walaupun sebenarnya kita kaya, amat sangat kaya. Kemiskinan akut pada tengah “surga” dengan kekayaan melimpah bernama Indonesia, ironis bukan?

Mengapa Kita “Miskin”?

Sebagai bangsa, kita tetap “miskin”, karena lembaga publik kita tak memiliki mentalitas dan budaya yang cocok untuk melayani rakyatnya. Kita juga hidup dalam bayang-bayang asing, baik dalam tingkat politik, ekonomi maupun tata nilai (Barat dan Timur Tengah). Secara kualitatif, mutu berpikir dan kemauan bekerja orang Indonesia setara dengan beragam negara lainnya, bahkan mungkin lebih baik dalam banyak hal. Jika kita bisa “memaksa” lembaga publik kita untuk menjalankan fungsinya sebaik mungkin, dan bersikap kritis terhadap beragam pengaruh asing yang masuk, maka jalan menuju keadilan dan kemakmuran bersama pada Indonesia terbuka luas.

Tunggu apa lagi?

Share this

ShareShareTweet

Just someone who proud to be called as Blogger, love to make Blogger template to spend a spare time.

Related : Mengapa Indonesia Miskin ?