Iklan 1

Rabu, 27 Januari 2016

Simak Kebiasaan Sehari-hari Siswa SMA di Jepang

Mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya bagaimana cara Jepang mendapatkan sumber daya manusia yang begitu berkualitas tiap tahunnya. Apakah tersebut berasal dari didikan orang tua, faktor lingkungan, atau cara bagaimana mereka bergaul. Tetapi mungkin faktor yang paling dapat mempengaruhi sifat seseorang selain tiga faktor tersebut ialah kehidupan mereka kala pada sekolah, karena sampai kala ini perilaku siswa/siswi Jepang pada kelas masih berada pada urutan terbaik dunia.


Lalu bagaimana keseharian para siswa/siswi Jepang kala pada sekolah?

1. Berangkat sekolah
Siswa/siswi Jepang tak dapat menyetir mobil karena tuk mendapatkan SIM pada Jepang sangatlah sulit, maka banyak dari mereka yang berjalan kaki atau naik sepeda jika jarak tak terlalu jauh. Dalam kasus lain, pelajar dapat memakai bus umum serta kereta api. Umumnya sekolah pada Jepang masuk pada pukul 8:30, sehingga umumnya pelajar yang menggunakan bus atau kereta api akan meninggalkan rumah kala pukul 6:30. Maka taklah aneh jika beberapa pelajar tertidur kala pelajaran berlangsung karena kelelahan selama perjalanan panjang, tapi tak selamanya naik transportasi umum tersebut merugikan, karena dengan menaiki transportasi umum juga memberikan kesempatan tuk bersosialisasi dengan teman sebaya. Perilaku pelajar dalam perjalanan ke sekolah diatur oleh kebijakan sekolah. kayak contohnya kebijakan yang melarang tuk mengunyah permen karet pada depan umum, mengkonsumsi makanan ringan serta membaca buku sambil berjalan, karena dapat membikin reputasi sekolah menjadi buruk. Karena tiap sekolah mempunyai seragam unik yang membikin pelajar mudah diidentifikasi publik.


2. Kala jam pelajaran

Setelah pada sekolah, para pelajar biasanya memasuki area loker tuk menyimpan sepatu mereka serta menggantinya dengan sepatu bersol karet khas sekolah Jepang. Sepatu ini mempunyai kode warna: merah muda tuk anak perempuan serta biru tuk anak laki-laki. Kemudian siswa berkumpul pada kelas-kelas mereka tuk memulai pelajaran. Hari sekolah dimulai dengan tugas-tugas pengelolaan kelas, kayak mengambil daftar kehadiran serta membikin pengumuman. tiap wali kelas mempunyai rata-rata 40-45 siswa. Pelajar umumnya cuman tinggal menunggu para guru datang tuk mengajar, sementara guru secara bergantian mengajar dari satu kelas ke kelas lain. cuman tuk pendidikan jasmani, laboratorium kelas, atau mata pelajaran lain yang membutuhkan fasilitas khusus maka pelajar akan meninggalkan kelasnya. serta cuman pada waktu jam makan siang maka suasana kelas akan menjadi sangat ribut serta hidup. Beberapa sekolah mungkin mempunyai kafetaria, tapi kebanyakan tak. Bahkan ada sekolah pada mana makan siang disiapkan oleh sekolah serta diberikan kepada pelajar, mereka biasanya makan bersama pada kelas-kelas mereka. pada sebagian besar sekolah, pelajar membawa kotak makan siang dari rumah, hampir selalu terdiri dari makanan yang disiapkan oleh ibu mereka pada pagi hari, kayak nasi, ikan, telur, sayuran, serta acar.

Pelajar Jepang menghabiskan 240 hari dalam setahun pada sekolah, 60 hari lebih dari rekan-rekan mereka pada Amerika. Meskipun banyak menghabiskan hari-hari tuk mempersiapkan festival tahunan sekolah serta acara-acara kayak Hari Kebudayaan, Hari Olahraga, serta kunjungan sekolah, pelajar Jepang masih menghabiskan jauh lebih banyak waktu pada kelas dari pelajar Amerika. Umumnya, pelajar Jepang masuk sekolah selama setengah hari pada hari Sabtu, namun jumlah hari Sabtu yang dibutuhkan tiap bulan menurun sebagai akibat dari reformasi pendidikan Jepang. Pilihan kursus serta buku pelajaran ditentukan oleh Departemen Pendidikan Jepang. Sekolah sudah menentukan otonomi terbatas dalam pengembangan kurikulum mereka. Pelajar pada sekolah menengah akademis biasanya memakan waktu tiga tahun masing-masing mata pelajaran berikut: matematika, ilmu sosial, bahasa Jepang, sains, serta bahasa Inggris. Mata pelajaran lain meliputi pendidikan jasmani, musik, seni, serta studi moral. Semua pelajar dalam satu tingkat kelas mempelajari mata pelajaran yang sama. Pada akhir hari akademis, semua pelajar berpartisipasi dalam o Soji (pembersihan sekolah). Mereka menyapu ruang kelas serta lorong-lorong, tong sampah kosong, membersihkan toilet, serta mengambil sampah dari halaman sekolah. Setelah o Soji sebagian besar pelajar bubar ke berbagai bagian sekolah tuk pertemuan klub.

3. Kegiatan ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakulikuler berlangsung setelah sekolah tiap hari. Guru yang ditugaskan sebagai pembimbing, tetapi acap kali pelajar sendiri menentukan kegiatan sehari-hari klub. Pelajar dapat bergabung cuman satu jenis ekstrakulikuler, serta mereka jarang berubah klub dari tahun ke tahun. pada sebagian besar sekolah, ekstrakulikuler dapat dibagi menjadi dua jenis: klub olahraga (baseball, sepak bola, judo, kendo, track, tenis, renang, softball, bola voli, rugby) serta klub kebudayaan (bahasa Inggris, penyiaran, kaligrafi, ilmu pengetahuan, matematika, buku tahunan). Pelajar baru biasanya dianjurkan tuk memilih sebuah klub tak lama setelah tahun ajaran dimulai pada bulan April. Klub bertemu selama dua jam setelah sekolah tiap harinya serta banyak klub terus bertemu selama liburan sekolah. Kegiatan klub memberikan salah satu peluang utama tuk dapat sosialisasi pada luar jam pelajaran. Kebanyakan perguruan tinggi menaruh minat pada pelajar yang berprestasi pada kegiatan klub ekstrakulikulernya. serta efek dari adanya ekstrakulikuler ini pun dapat mempererat hubungan antara senpai (senior) dengan kohai-nya (junior). Ini ialah bentuk tanggung jawab senpai tuk mengajar serta mengurus kohai tersebut.

4. Pelajaran tambahan

Komponen menarik dari pendidikan Jepang ialah industri yang berkembang yaitu juku serta yobik. Juku mungkin menawarkan pelajaran dalam mata pelajaran nonakademis kayak seni, berenang, sempoa, serta kaligrafi, terutama bagi siswa sekolah dasar, serta mata pelajaran akademik yang penting bagi persiapan tuk ujian masuk pada semua tingkat. Juku tuk siswa SMA harus bersaing tuk pendaftaran dengan yobiko, yang ada cuman tuk mempersiapkan siswa tuk ujian masuk universitas.

5. Ujian masuk

Selain masuk universitas, masuk ke SMA juga ditentukan oleh pemeriksaan, serta mata pelajaran yang diujikan pada Jepang ialah matematika, IPA, IPS, serta Bahasa Inggris. Sekolah tinggi swasta membikin ujian mereka sendiri, sementara tuk sekolah menengah umum mereka dibakukan dalam tiap prefektur. Siswa (dan orang tua mereka) menganggap catatan penempatan perguruan tinggi masing-masing sekolah kala memutuskan tuk mengambil ujian. Keberhasilan atau kegagalan pada ujian masuk dapat mempengaruhi seluruh masa depan siswa, karena prospek menemukan pekerjaan yang baik tergantung pada sekolah yang didatangi. Dengan demikian, siswa mengalami tekanan sistem ujian ini pada usia yang relatif dini. Tapi, tes praktek pada sekolah serta para guru mengarahkan siswa menuju lembaga yang ujian mereka yang paling mungkin tuk lulus.


6. Waktu libur

Pelajar Jepang menyisihkan sekitar dua jam per hari tuk pekerjaan rumah, serta sekitar tiga jam pada hari Minggu. Mereka menghabiskan rata-rata dua jam per hari menonton televisi, setengah jam mendengarkan radio, membaca satu jam, serta kurang dari setengah jam dalam hubungan sosial dengan teman sebaya pada luar sekolah.

Bagaimana, sungguh membutuhkan kedisiplinan tingkat tinggi bukan? Maka taklah aneh jika Jepang selalu berhasil menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Tertarik mengaplikasikan hal-hal tersebut pada kehidupan pada sekolah kalian?

Share this

ShareShareTweet

Just someone who proud to be called as Blogger, love to make Blogger template to spend a spare time.

Related : Simak Kebiasaan Sehari-hari Siswa SMA di Jepang

1 komentar:

orang indonesia juga gitu kok gan sebagian :D harus bangga jadi orang indo :D

Visit Back Berpijak news